Saya masih berstatus mahasiswa semester 3, saat Raihan— grup nasyid asal Malaysia, meluncurkan
lagu berjudul “Iman Mutiara". Bagian reff (chorus) dari lagu tersebut
berbunyi: “Iman tak dapat diwarisi dari seorang ayah yang bertakwa. Contoh dari
lirik lagu tersebut ada pada Kan’an, yang menolak ajakan Nabi Nuh— ayahnya,
untuk bertauhid kepada Allah SWT (QS. Hud Ayat 42–43).
Namun kisah Ayah dan
anak yang bertaqwa, yang kemudian menjadi asal mula pelaksanaan ibadah Qurban juga
diabadikan dalam Al Qur’an, yaitu kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Percakapan
antara keduanya sangat menyentuh hati. Memotivasi siapapun yang membaca kisahnya
untuk memperbanyak doa agar memiliki keturunan yang saleh/ah, sekaligus
introspeksi seberapa baik dalam mendidik anak.
“Maka ketika anak
itu sampai pada (umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, ‘Wahai
anakku!' Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah
bagaimana pendapatmu!' Dia (Ismail) menjawab, 'Wahai ayahku! Lakukanlah apa
yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku,
termasuk orang yang sabar.'”(QS.
Ash-Shaffat ayat 102).
Ayat tersebut
mengandung banyak hikmah, antara lain ujian ketaatan, pentingnya komunikasi antara
orang tua dan anak, dan kesabaran. Melalui mimpi, Allah SWT memerintahkan Nabi
Ibrahim untuk menyembelih Ismail, putranya. Perintah yang sangat berat mengingat Nabi
Ibrahim telah menanti lama untuk memperoleh keturunan. Inilah bukti ketundukan
mutlak kepada Allah SWT lebih utama daripada ikatan dunia.
Sebelum melaksanakan
perintah, Nabi Ibrahim menyampaikannya terlebih dahulu kepada Nabi Ismail untuk
meminta pendapatnya. Pendekatan ini menunjukkan pentingnya komunikasi dua arah
antara orang tua dan anak. Persetujuan Nabi Ismail adalah bentuk bakti yang
luar biasa kepada ayahnya sekaligus ketaatan kepada Allah SWT. Keikhlasan Nabi
Ismail adalah bukti keberhasilan penanaman tauhid dari seorang ayah kepada
anaknya sejak dini.
Dikaitkan dengan manajemen pendidikan, peristiwa yang menjadi asal mula ibadah Qurban tersebut memberikan banyak Pelajaran. Kisah itu itu juga dapat menjadi cetak biru (blueprint) manajemen pendidikan karakter dan kepemimpinan yang sangat modern, antara lain:
1.
Pendidikan
Berbasis Karakter
2.
Participative
Leadership
3. Manajemen Komunikasi
Pendidikan
Berbasis Karakter
Keikhlasan Nabi
Ismail melaksanakan perintah Allah SWT adalah buah dari penanaman tauhid Nabi Ibrahim
sejak dini. Dalam Manajemen pendidikan, karakter unggul tidak terbentuk dari sekadar
pemahaman teori di kelas, tetapi juga dari praktik di lapangan melalui latihan
dan proses yang panjang. Kolaborasi sekolah dan keluarga memainkan peran yang sangat
penting dalam pembentukan karakter mulia pada diri anak.
Participative
Leadership, dan Komunikasi
dua arah
Nabi Ibrahim tidak
memerintahkan anaknya agar melaksanakan perintah Allah SWT secara otoriter. Bapak
para Nabi tersebut mengajarkan urgensi menghargai martabat anak sebagai fondasi
utama dalam pendidikan karakter. Komunikasi resiprokal—transparan tentang
tujuan, terbuka pada dialog, dan penuh penghormatan—terlihat dari percakapan
keduanya.
Dalam manajemen
pendidikan, Gaya kepemimpinan yang melibatkan bawahan dalam pengambilan keputusan
terkadang sangat diperlukan (Participative Leadership). Oleh sebab itu, seorang
pemimpin harus mampu mengomunikasikan visi besarnya kepada orang-orang yang
dipimpinnya, serta mempraktikkan komunikasi dua arah dalam rangka membangun
kesadaran kolektif. Pemimpin lembaga pendidikan harus meneladani gaya
komunikasi Nabi Ibrahim (Role Model), yakni menjelaskan visi besar, meminta
pendapat, dan melibatkan warga sekolah dalam proses pendidikan.
Dalam perspektif pendidikan, percakapan antara
Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail menggambarkan keberhasilan manajemen pendidikan karena mampu mengubah
instruksi/perintah (kurikulum) menjadi sebuah kesadaran sukarela untuk melaksanakannya.





Posting Komentar