Kebanyakan laki-laki suka bermain sepak bola, saya salah satunya. Sejak kecil, saya sudah menggandrungi permainan yang sangat populer di seluruh dunia ini. Hampir saban hari saya bersentuhan dengan bola, baik di sekolah, tanah lapang di kampung, dan lapangan sepak bola kayu tangi di bawah arahan Pak Udi (Alm), dan Mas Yanto. Saya tak lagi bermain bola selepas tahun 2000. Memori indah yang tersimpan hingga kini adalah mencetak gol di final liga Fakultas Ekonomi ULM Banjarmasin yang menghantarkan tim Angkatan 95 meraih juara di kompetisi terakhirnya.
Api
semangat mengejar bola kembali menyala beberapa tahun silam setelah Bang Amat, sohib
masa kecil, mengenalkan saya kepada Pak Rudiansyah, pimpinan Berkah FC. Walau
sebenarnya fisik tak lagi prima, dengan niat menjalin silaturahmi dan berolah
raga, saya ikut bermain di lapangan kayu tangi setiap senin dan rabu jika tidak
ada kesibukan di kampus. Di tim yang sangat solid inilah saya berkawan dengan
pemain-pemain hebat di lapangan, dan sangat ramah di luar lapangan.
Apa
yang saya paparkan dalam tulisan singkat ini mungkin tidak begitu tepat, namun
semoga tetap menarik untuk ditelaah. Saya mencoba mengaitkan sepak bola dengan manajemen pendidikan, tepatnya
ilmu terapan (applied science) yang berada di bawah naungan ilmu
pendidikan. Disiplin ilmu yang saya pelajari.
Saya menganalogikan salah satu posisi di tim sepak bola, yaitu Playmaker (Attacking Midfielder) dengan salah satu struktur strategis di manajemen sekolah, yaitu Koordinator Pengembangan Kurikulum & Inovasi Pembelajaran.
Dalam
sebuah tim sepak bola, Playmaker bertindak sebagai otak serangan yang
beroperasi di antara lini tengah dan depan. Seorang playmaker tak selalu
mencetak gol, tetapi dialah otak di balik setiap peluang yang tercipta.
Di
Berkah FC, ada empat pemain berpengalaman yang memainkan posisi ini, yaitu
Kapten Rudi, Taufik, Budi Riva, dan Izul. Mereka beroperasi di "Zona
14", area krusial di depan kotak penalti lawan. Dengan visi bermain yang
kuat, ditopang teknik, dan kemampuan dribbling
yang sangat baik, keempat pemain andalan tersebut bertugas mengatur tempo,
menciptakan peluang gol melalui umpan terobosan jitu, serta mendikte jalannya
permainan.
Di
dunia pendidikan, di "lapangan" yang bernama sekolah, peran serupa
playmaker dimainkan oleh seorang Koordinator Pengembangan Kurikulum dan
Inovasi Pembelajaran. Umumnya jabatan ini dipercayakan kepada wakil kepala
sekolah bidang kurikulum. Mereka adalah playmaker pendidikan,
arsitek tak terlihat yang merancang skenario agar setiap "gol"
pembelajaran—yaitu pemahaman mendalam dan keterlibatan siswa—tercapai.
Jika playmaker
sepak bola menguasai “zona 14” (area antara lini tengah dan
penyerang), playmaker pendidikan beroperasi di “zona transisi” yang
kritis. Mereka harus mampu menjembatani visi strategis kepala sekolah dan
realitas harian di kelas. Tugas mereka bukan mengeksekusi, tetapi membuat
eksekusi menjadi mungkin terjadi dan efektif.
Umpan
terukur (assist) seorang playmaker sepak bola, dalam pendidikan,
berwujud desain pembelajaran yang brilian: sebuah skenario Project-Based
Learning yang kontekstual, rubrik penilaian autentik, atau modul digital
interaktif yang mereka siapkan untuk guru-guru. Mereka "mengumpan"
para guru (para striker) untuk mencetak gol di depan siswa.
Kemampuan
membaca permainan (game intelligence) playmaker di lapangan sepak bola,
di dunia pendidikan diterjemahkan menjadi analisis kebutuhan pembelajaran.
Mereka melihat "celah" antara kurikulum nasional dan konteks lokal,
antara minat siswa dan materi pelajaran, lalu merancang strategi untuk
memanfaatkan celah tersebut menjadi peluang belajar yang menarik.
Jika
playmaker sepak bola menentukan kapan serangan dipercepat atau diperlambat,
playmaker pendidikan memastikan alur pembelajaran sesuai ritme
siswa—tidak membebani, juga tidak membosankan. Pada intinya, playmaker
pendidikan adalah jembatan penghubung vital yang menerjemahkan kebijakan
menjadi praktik, teori menjadi aksi, dan data menjadi strategi. Tanpa mereka,
serangan pedagogis sebuah sekolah berisiko menjadi kaku, terfragmentasi, dan
kurang kreatif.
Seperti
Kapten Rudi, Taufik, Budi Riva, dan Izul yang berperan penting menentukan ritme
permainan Berkah FC sehingga tim ini berulang kali meraih tropi di kejuaraan
sepak bola yang diselenggarakan Dispora Kalimantan Selatan, peran wakil kepala
sekolah bidang kurikulum juga menentukan kualitas pendidikan di sebuah sekolah.
Apabila
pembelajaran di sekolah terasa hidup, dinamis, dan penuh penemuan, maka itu
semua karena kepiawaian Koordinator Pengembangan Kurikulum dan Inovasi
Pembelajaran, playmaker yang bermain di balik layar, merancang pertunjukan, menyiapkan senjata bagi
para guru, dan memastikan setiap serangan pembelajaran berakhir dengan gol
kompetensi yang gemilang.





Posting Komentar